‘’brak..’’ buku biologi itu tersentak oleh jemari tangan nina. Ya. Malam ini nina mengutuki dirinya lagi, untuk kesekian kalinya.
Kamar bercat coklat dengan almari plastic di pojoknya itu malam ini benar-benar berantakkan. Sangat kontras dengan kamar remaja putri lainnya.
‘’ bodohnya saya. Bego.’’ Marah nina pada dirinya sendiri sambil mengotak-atik lagi hand phone putih gading yang digenggamnya sejak tadi.
Saya sayang sama kamu. Saya ga bisa tuh nutup-nutupin perasaan saya. Jangan illfeel ya kak? Saya Cuma ngomong kok. Hehe
Dibacanya lagi pesan-pesan yang ia kirim beberapa waktu lalu .
‘’ bego banget sih nina kamu tuh. Apa lah maksudnya kirim-kirim sms gitu ke dia?’’ tanpa henti ia mengatai dirinya sendiri.
Maaf ya kak. Saya bilang kayak tadi sama kakak. Anggep aja saya nggak pernah ngomong gitu ke kakak.
Dikiriminya lagi pesan itu pada ku. aku hanya tersenyum meladeni sikap gadis kecil itu. Dan ntah apa yang merasuki ku..
Kakak juga sayang kamu nin. Tapi kayak kakak sayang sama adik kakak.udah ya. Kakak mau nonton film lagi. Bye
Send.
Ku tatap layar laptop tepat di hadapan ku itu tanpa ada perasaan bersalah. Benar-benar tak ku hiraukan lagi ponsel merah pemberian kak Fara bulan lalu itu. Semakin larut dan tenggelam ku dibuat oleh temaram bulan malam ini, yang enggan tersenyum pada seonggok manusia yang tanpa sadar meremukkan hati yang susah payah dibangun oleh gadis kecil itu.
Malam nina. Gumamku dalam hati.
Siang ini, seperti biasa, ku tapaki paping kelabu itu bersama Rara dan Jingga. Aku hanya diam. Tak seperti biasanya. Aku juga tak tahu apa yang ku rasa siang ini setelah membaca pesan Putra pada nina. Terlihat sangat akrab.
‘’ Dis, mau pesen apa kamu?’’ ucap Rara mengagetkan ku dalam lamunanku siang ini.
“ hah?’’ jawabku polos.
“pesen apa? Sekalian sama aku dan Jingga.’’
‘’nasi goreng aja deh Ra.’’ Jawab ku singkat.
Agaknya Rara dan Jingga mendapati kegelisahan ku.
‘’ apa kabar nina Dis?’’ Tanya Rara yang baru kembali dari memesan sepiring nasi goreng dan dua mangkok bakso itu
Rara memang tahu semua tentang ku dan Nina. Nina memang gadis periang, akrab dengan siapa saja. Termasuk karib ku satu ini.
‘’nina?’’
‘’nina mana sih ? peserta seminar kemarin?’’ jingga ikut nimbrung.
Rara menganggukan kepala sembari menanti mulut ku berucap.
‘’ gimana apanya? Biasa ajalah. Kamu bisa liat nggak sih Ra kalau Putra suka sama adik mu itu?’’
‘’hah putra? Anak lebay gitu. Semua-semua di sukain’’ jawab Jingga
‘’kamu cemburu kan Dis?’’
Pertanyaan Rara mendesiskan rasa dalam hati ku. entahlah.
‘’ biasa aja aku mah. Aku anggep adik sendiri udahan’’
Bohong.
Hemh… kepribadian kakak tuh unik. Aku tau kakak suka iri sama temen-temen kakak kan? Aku juga tau kalo kakak pinter ngelola emosi kakak. Nggak semua orang bisa kayak kakak loh.. J
Nina bisa aja. Kakak kagum loh sama Nina. Jarang ada cewek atraktif tapi berpendirian kayak nina.
Tersentak ku menghentakkan garpu di tangan kiriku itu mengingat sms Putra yang sengaja ku baca pagi tadi.
Rara dan Jingga terkejut dengan muka polosnya.
‘’ ngapa kamu Dis?’’ Tanya jingga
‘’aku tersedak’’ sambil berpura-pura batuk. Rara tahu aku bohong siang ini.
Kami bertiga kembali menyusuri lorong hijau menuju kelas.
‘’ nina itu asik banget ya Ra. Saya kagum dengan kepribadiannya. Easy going , ramah , manis dan lesung pipinya itu loh.. kenyes-kenyes liatnya’’ Putra berkisah pada Rara, tepat dibelakang bangku ku.
‘’ ya emang Put, dia udah saya anggep adik sendiri. Tapi manja nya itu loh Put, masih anak-anak banget.’’
‘’ emang Ra, tapi sering juga kok saya tuker pikiran dengan dia dan bener-bener dewasa jawaban-jawabannya.’’
Aih.. ntah lah. Sesak dadaku mendengarnya. Pikiran ku benar-benar kacau.
Senja ini, ada yang ku rasa berbeda. Aku rasa ada sesuatu yang hilang. Ku coba mengingat jauh menyusuri alam sadarku yang kelam. Namun tak ku dapati jawabannya. Ku raih ponsel tepat di kamar kost ku. ah. Iya. Nina . sms nina yang ku tunggu.
Ndok.. kok ga sms sih?
Operator tak menghendaki sms ku sampai pada Nina sore ini rupanya. Aku berlagak acuh dengan laptop ku yang siap menghadirkan film horror baru dari Ayu siang tadi.
Adzan maghrib berkumandang. Biasanya nina sudah sibuk dengan pesan singkatnya mengajakku untuk sholat, tapi lain dengan sore ini.
Kemana ? pikir ku. segera ku tepis ntah apa yang mendesis di dadaku sore ini dengan basuhan wudhu . segar . nyaman. Dan mengobati perasaan ku yang sedang kacau senja ini.
Rabu, Kamis, Jum’at dan sudah seminggu Nina tak menghubungi ku. mata Putra dan Rara pun sembab beberapa hari ini.
‘’ kenapa sih kalian berdua ini?’’ Tanya ku membuka wacana sambil menghampiri kedua karib ku itu.
Rara menangis melihat ku. aku tahu dadanya sesak.
Ada apa ini?
‘’ maaf Aldis kami menutupi ini semua dari kamu’’.
‘’ nina mengidap Talasemia selama ini. Dan ia mau kamu tidak tahu semua ini’’ rara memulai kisahnya.
‘’ beberapa hari ini,nina koma. Ia merongrong nyawa melawan ajal nya.’’
Hatiku serasa disambar petir.
‘’sejak seminar bulan lalu. Ia langsung dirujuk ke rumah sakit sama mama papanya.mungkin karena kecapekan’’
‘’putra, ngapa nggak bilang kamu hah?!!’’ marah ku pada putra.
‘’heiii.. makanya nggak usah sok acuh lah kamu. Nina tu sayang banget sama kamu Dis! Bego kamu nyia-nyiain orang luar biasa kayak dia! Dia nyeritain kamu terus kalau di sms. Apa kamu tahu saya iri dengan kamu?!!’’ nada putra meninggi.
Kak.. nina maw operasi loh besok. Hihi….
Hah? Operasi apa ndok?
Ga ding. Becanda. Kak, Allah sayang sama kakak loh J
Aku teringat sms nina yang tak ku ambil pusing beberapa malam lalu. Bodoh kamu Aldis!!
‘’ ngapa baru ngasih tahu aku?’’ air mata ku menetes.
‘’ nina nggak mau buat kakaknya ini sedih Dis’’.
Kata-kata rara barusan semakin mengiris hati ku sore itu.
Kini, tepat dua tahun setelah kejadian itu, aku duduk termenung mengais lagi perasaan ku yang diporak-porandakan situasi. Ku dapati satu bintang disana. Nina. Adik yang ku kasihi, aku yakin dia tersenyum menatapku dari sana yang semakin rajin bermesraan dengan Rabbi-ku. tuhan telah menamparku lewat nina.
’Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari tak ada keraguan padanya”.sungguh Allah tidak akan menyalahijanji Allah sangat berat hukuman-Nya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar