Minggu, 11 September 2011

"sulai..oh sulai"

“sulai.. sulai..”
“satu donk dik.. yang hijau ya..”
“ satu aja pak?”
“iya.. berapa harganya?”
“dua ribu saja pak..”
Bapak berkemeja biru dongker itu menyodorkan selembar kertas berwarna merah keunguan bertuliskan nominal 10.000, dengan tergesa anak itu mencari kembalian dikantong asoy tepat diatas tutup termos dagangannya.
“ udah.. ambil aja kembaliannya buat kamu”
“tapi pak..”
“udah nggak apa-apa..”
Pemuda usia sekolah menengah atas itu tersenyum dan mulai beranjak meninggalkan bapak berkemeja itu. Seketika aku teringat sesuatu.
Siang itu, lelaki berseragam putih abu sibuk menjajakkan berbungkus susu kedelai didepan halaman mushola Al-Bayyan, mushola sekolahnya.
“duh.. Putra, rajin amat..” sejawatnya menggoda.
Lelaki itu hanya membalas dengan senyumnya.
“satu Put.. yang merah ya.” Surya menghampiri Putra.
“ satu aja Sur?”
“iya lah.. buat apa pula banyak-banyak”
Surya duduk menghampiriku, tepat disamping teremos biru tumpuanku.
“laris Put hari ini?”
“yah.. Alhamdulillah lah, itung-itung buat uang saku saya.”
“kamu ngambil stok dari mana sih Put?”
“itu loh tempat Pak Imam dekat pondok seberang. Iseng-iseng Tanya aja sih waktu itu, eeh malah ditawarin.”
“haha dasar orang angek . dagang aja pikirannya”  Surya menggodaku.
“yah itung-itung saya belajar berpenghasilan lah Sur, siapa tahu berguna buat saya kedepan.”
“orang tua-mu apa nggak pernah ngasih saku sih Put? Kayaknya motormu nggak sesuai dengan mata pencaharianmu deh  Put”
“nggak apa-apalah. Saya tu berusaha mewujudkan misi sekolah ini Sur. Nggak pernah baca apa kamu?”
“eleh gaya bener kamu Put..Put’’ Surya menertawaiku.
Teet… teet.. teet..
Bel tanda masuk yang dipencet Mas Kurnia bergema diseantero sekolah contoh dikabupaten terpuruk diprovinsi ini.
“masuk lagi Put.. dagangan aja yang kamu urusin hahaha..” gumam Surya.
Aku beranjak membenahi teremos biru yang dihuni beberapa bungkus Sulai itu. Bukan berniat cari duit secara total, namun aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa menafkahi diriku sejak bangku sekolah menengah atas ini.
“ putra.. ntar jangan lupa ya hadir. Kita mau bahas program seminggu kedepan. Di mushola sepulang sekolah ya… oke?” ucap Dika dengan nada khasnya yang lembut.
“iya akhi.. syukran udah ngingetin ya. Insyaallah ana datang” balas ku.
“iya..”
Nadanya merdu sekali, lembut dan bersahaja. Dan melodi kesederhanaan Dika lenyap bersama jejak menuju kelasnya. Suara Dika khas ikhwan-ikhwan difilm remaja muslim, sangat cocok dengan jabatannya, Ketua Ikhwan Rohis Al-Bayyan.
Siang ini aku harus memaksakan diri untuk mendengarkan bapak Sejarah itu berkisah. Bukan karena mata pelajarannya tapi terlebih dengan sikap bapak itu terhadapku sebelum kejadian itu. Saat dia mendoktrin teman-teman sekelasku tentang sejarah penciptaan manusia, namun aku tidak mau didoktrinnya begitu saja.
“ manusia itu asalnya memang dari kera, jadi ya terima saja kalo kalian semua itu keturunan kera. Lihat teori darwin dibuku kalian.”
Teman-teman ku hanya bisa menggerutu di belakang.
“maaf pak.. menurut kitab saya, manusia itu asalnya dari Nabi kita semua pak. Nabi Adam AS dan sepengetahuan saya teori Darwin itu sudah lama gugur pak”
“eee kok kamu ngeyel sih? Siapa gurunya ? berani bener kamu bilang gitu ke saya”
“ tapi bisa kita lihat di internet pak atau sumber-sumber lain.”
“kamu tu sok tahu. Anak kecil aja sok tahu. Buku mana yang ngomong kayak gitu? Coba tunjukin ke saya kalo memang ada.”
Udah salah ngeyel lagi. Dikira saya takut apa? Saya berani kok datengin bapak karena saya memang bener. Agama saya mengajarkan seperti itu pak. Ah bapak ini, pengen ketawa saya liatnya.
Aku menjinjing beberapa kitab berdasar hadist dan Al-Qur’an ditangan kanan ku dan beranjak mendatangi bapak sejarah itu. Beliau satu dari beberapa insan yang diamanahi sebagai wakil kepala sekolah, jadi ruangan beliau terpisah dengan guru-guru mata pelajaran lain dan satu ruangan dengan beberapa wakil kepala sekolah.
“ maaf pak permisi..ada waktu sebentar?”
“mau aoa kamu? Saya sibuk.”
“saya hanya ingin meluruskan masalah kemarin pak supaya semuanya transparan dan mengerti adanya.”
“saya sibuk!” ketus nadanya
“baik pak.. saya masih mengharapkan waktu bapak yang berharga itu untuk meluruskan perdebatan kita pak. Permisi .”
Aku beranjak meninggalkannya.
“ehh sini-sini kamu. Ya sudah. Nggak pake lama ya”
Gimana lah bapak ini ? bingung aku.
Aku mencoba menjelaskan panjang lebar sesuai dengan dasar yang terkandung dalam kitab-kitab ini dan beberapa lembar sumber dari internet. Agak sukar mungkin untuk ia pahami namun aku tetap terus menjelaskan sampai akarnya.
Yah. Tuhan maha Kuasa, akhirnya ia menyerah dengan segala penjelasanku dan mengaku kalah. Sejak saat itu—ku rasa bapak itu menaruh respon terhadapku. Dan pernah suatu ketika beliau memanggilku. apa aku punya salah? Pikirku.
“eh.. ada undangan lomba nih di provinsi.saya rasa kamu berminat dan mau mewakili sekolah dalam kompetisi ini.” Nadanya berwibawa.
“oh.. dengan senang hati pak. Terimakasih ya pak”
Beliau menyodorkan amplop yang berisi undangan dari dinas provinsi itu padaku.
Namun, sikapnya saat ini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat padaku. Baik. Baik sekali tapi entah kenapa aku malas meladeninya.
Usai rapat siang ini, Dika menghampiriku . mengajakku berdialog empat mata.
“putra, kita tau ya kalo kas Rohis menipis sekarang-sekarang ini. Aku dari semalem nyari-nyari solusi tapi nggak ketemu-ketemu. Kira-kira kamu bisa bantu nggak atau ada ide gitu?”
“ gimana kalau kita kerahkan anggota rohis untuk jalanin program BUM kita. Missal, jualan-jualan apa gitu atau lewat publikasi perpustakaan kita.”
“kalau perpustakaan sudah dicoba Put, tapi masyaallah kesadarn siswa untuk membayar kewajibannya susah banget. Jangankan bayar, buku malah banyak yang nggak dipulangin lo..”
“ya udah BUM aja yang kita coba memotori dulu dik”
“ aku kepikiran sih soal ini Put, gimana kalau lewat sulai mu itu Put?”
Aku diam.
“gimana ? ayolah Putra..”
“iya oya. Aku rasa bisa. Jadi masing-masing kelas ada penanggung jawab distributor sulai ini dan distributornya harus anak rohis. Gimana?”
  bisa-bisa. Jadi kapan kita bisa mulai put? Kalau bisa sesegera mungkin ya soalnya kas semakin menipis belum lagi sebentar lagi kita ngadain class meeting.”
“iya kita agendakan dulu dengan agennya”
Distributor Rohis mulai gencar dan ramai. Penjualan sulai tiap kelasnya semakin membuat siswa-siswi nyaman tanpa harus ke kantin. Roda kas Rohis yang semula kekurangan angin kini mulai tertata rapih dan dapat berputar kembali. Sampai suatu siang aku dipanggil bapak Kesenian itu untuk menghadap beberapa wakil kepala sekolah mengenai penjualan sulai ini.
“kamu itu anak sekolah tuganya ya belajar, kenapa harus jual-jualan segala sih?”
“ maaf pak.. bu.. saya disini hanya berjualan ketika jam istirahat. Jadi saya rasa tidak mengganggu jam KBM.”
“kamu tu masih SMA udah jual-jualan. Nggak malu apa kamu?” ketus guru ekonomi itu pada ku.
“sekali lagi maaf bu, saya hanya ingin mewujudkan misi-visi sekolah ini”
“yang mana ? kamu itu alasan aja”
“ menciptaka lulusan yang mandiri, kreatif dan berwawasan global dengan landasdan iman dan taqwa”
“nggak usah bawa-bawa visi misi sekolah. Yang jelas tugaskamu sebagai pelajar tu ya belajar. Nggak lebih”
“tapi pak…..”
“sudah-sudah. Saya nggak mau tahu. Sekolah nggak mau tahu besok harus mulai berhenti usahamu itu. Kalo memang masih saya lihat atau dengar, saya siapkan surat panggilan untuk orang tua kamu.”
Hati ku marah dengan ketidak adilan ini, aku hanya benar-benar ining mewujudkan visi sekolah itu dan belajar bagaimana cara mempertahankan hidup jika kelak aku berada dalam kesulitan. Halnya menghidupkan pilar-pilar kas rohis yang hamper rubuh itu.
Kami marah dan kecewa. Aku disini berdiri dengan ketidakpuasan ku terhadap argumensi yang tidak mereka dengar itu. Kapan sekolah, kabupaten dan provinsi ini maju kalau terus-terusan langkah kami dihalangi seperti ini. Tapi aku yakin, suatu saat mereka akan tahu dampak dari semua ini.
Motor bagiku untuk membuktikan siapa aku dan kesanggupanku menyongsong hidup jauh didepan mereka. Membuktikan kesia-siaan mereka dalam menghalangi langkah seorang penjual susu kedelai dalam membangun roda-roda kas organisasi kesayangan Tuhan disekolahku ini. Dan menekankan pada sebuah langkah penjual susu kedelai yang mereka cibir dahulu.
‘’Putra.. gimana ? bisa nggak?” Ardiyaksa mengagetkan ku.
“astaghfirullahhalazim..” aku terbangun dari lamunan ku.
“ gimana ?”
“gimana apanya ?”
“kamu nih nggak dengerin aku to dari tadi?”
“emang kamu ngomong apa Sa?”
“masyaallah.. tentang tawaran SMA  ke kamu.”
“tawaran apa sih aku nggak mudeng”
Adiyaksa menggaruk-garuk kepalanya tanda bingung.
“ SMA  ngotot ngundang kamu jadi trainer buat acara motivasi kelas XII minggu depan”
“wah.. kok bisa?”
“iya sekolah lihat profilmu dimajalah yang di bawa sama si Seta tempo hari. Kamu trainer termuda di Indonesia kan?”
“ah biasa aja. Wah.. insyaallah saya bisa Sa soalnya minggu depan jadwal saya break.”
“wah nggak keganggu nih kamu?”
“nggak.. nggak apa-apa kok”
Terimakasih ya Rabbi engkau membuka bingkisan manis itu saat ini. Sekoalah yang melecehkanku kini mengharapku. Engkau maha pengasih ya Rabbi. Keyakinan ku ternyata Kau simpan rapih dibalik bingkisan senja ini. Aku tahu, semua inilah jalan Kasihmu padaku, seorang penjual susu kedelai yang dulu dicibir dan menjelma menjadi seorang trainer, motivator termuda dinegeri ini. Nun jauh disana, tanpa mereka sadari, engkaulah trainer dan motivator utama bagi jejakku kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar