Aku rindu masa itu, ketika mereka menyelimuti hatinya dengan segala cara. Sedih yang terbungkus tawa. Canda yang berbalut duka. Lamunan tanpa arah jauh merasuki alam jiwa yang tak terjamah. Semakin tinggi, menjauh, tenggelam dan menghilang menguap tanpa jejak. Tak secuilpun rasa itu tersisi disini. Titik jenuh yang semakin membuncah menyerbak aroma kebengisan hati seorang, beberapa dan banyak insan. Jauh disana, duduk menanti senja yang datang seorang gadis dengan bludru hijaunya tersenyum. Rok wiru yang menutup sebagian dari lututnya. Manis dan elok. Samar-samar senja menyibak aroma jiwa gadis itu. Jauh disana, terpancar suatu titik, semakin pudar dan memudar tanpa jejak. Kemana? Apa? Apa awal dari semua ini. Gadis itu seketika terperanjat dalam senja yang makin tenggelam. Mencari-cari darimana dan apa awal dari semua ini. Galau dan tak pasti. Jiwanya sesak dan mulai tertumpu pada suatu masa, keputus asaan. Semakin ia cari darimana asal semua itu, semakin sesak yang ia rasa. Bludru hijau yang membalut tubuhnya semakin tak mampu tuk hanya sekedar menemani harinya bahkan tuk menghangatkannya. Ia berkeras untuk menutub lubang-lubang bludru dengan rajutan tangannya. Namun ah.. pyar, jemarinya terluka atas jejaruman itu. Kini ia tak lagi dapat melanjutkan rajutannya sebab darah terus mengalir membasuh bludrunya itu. Hijau yang menyejukkan hatinya itu menjelma pekat dan menjijikkan. Tak kuasa ia melepas bludru itu dan sejenak membasuhnya dengan cairan bening bernama air. Tapi apa yang terjadi teman? Darah pekat semakin deras mengalir dari secuil lubang pada jemarinya. Ia mencari mana awal lubang kecil itu. Apa yang ia dapatkan? Beberkas garis merah pada telapak tangan yang tanpa ia sadari semakin membekas sebab keras tarikan benang-benang halus itu. Dan saat ini ia tak tahu kemana harus ia ibakan jemarinya ini. Sebab ia bisu. Ia marah pada kebisuannya dalam keramaian masa ini. Ia sendiri dalam keramaian ini. Lalu apa yang bisa ia perbuat saat ini?
Kebisuan itu nyatanya tak menolong dalam titik awal yang ia cari. Semakin membuncahkan kadar rasa yang ingin ia buang jauh , hilangkan tak berbekas dan menguap tanpa secuilpun tersisa. Kebengisan insan sekelilingnya semakin menusuk merusak harapan yang lama ia bangun. Konstruksi luar biasa yang mendekati titik sempurna. Nyaris sempurna. Tapi kini asa itu tak lebih dari selembar kertas kusam yang tercarik temaram darah yang terus mengalir. Oh tuhan ? apa yang harus ia lakukan disana? Dan aku? Hanyakah aku diam melihat dan menanti kelanjutan kisahnya ini? Tapi apa yang dapat aku lakukan tuhan, sedang aku tak memiliki cukup ilmu akan seni kehidupan yang lama ia konstruksi. Gada yang jauh tersimpan dalam alam jiwa yang tak mampu ku jamah itu sama sekali tak terbesit olehku tuhan. Seperti aapa rupanya? Bagaimana warnanya? Aku tak mampu tuk sekedar membayangkan pun merajuknya untuk bertahan.
Sedang ia disana, semakin pekat gerbang hatinya tertutup bahkan untuk sekedarku terawang lewat sinar lakrimalnya. Sama sekali tanpa celah. Pun jika Kau mengijinkan ku untuk masuk dalam jamahan jiwanya, aku tak memiliki cukup keberanian untuk merajuknya.
Untukmu, gadis bludru hijau yang semakin terperanjat dalam suatu titik yang ntah apa. Gadis rok wiru yang semakin ditenggelamkan satu titik awal atas haribaan senja. Jenuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar